Jangan Jadi Anak Hilang Dan Jangan Menghilangkan Diri Sendiri.

kaitkanlah hati kalian dengan pondok dan almamater kalian, insyaAllah kalian akan menjadi orang yang mulia. Ingat kepada Almamater, berarti kalian pandai berterima kasih. Karena itu, pandai pandailah berterima kasih pada sesama, pasti kalian pandai bersyukur kepada Allah.

(Alm. KH Muhammad Idris Jauhari)

Sebuah quote yang sangat sarat akan makna, kata kata ini lahir dari seorang penulis hebat,yang dijuluki sang konseptor pesantren. Tak hanya mampu menuangkan gagasan ke dalam tulisan, tapi juga mampu mengaplikasikannya kedalam kehidupan.  Beliau adalah KH. Muhammad Idris jauhari, s alah satu dari muassis pondok pesantren Al Amien Prenduan.

Jujur, saya tidak sempat bertemu beliau, baik secara dzohir maupun melalui mimpi (semoga bisa bertemu) karena saya masuk pondok pesantren itu 2018 sedangkan beliau wafat 2012. Sangat jauh sekali memang, tapi kata kata beliau itu sangat berbekas di hati setap santri dan alumni, baik yang sempat bertatap muka dengan beliau maupun tidak, alumni ataupun abituren, dan kata kata itu juga yang sering diulang ulang oleh masyayikh pondok pesantren Al Amien Prenduan khususnya setiap kali melepas alumni sampai sekarang.

Coba kita perhatikan. kata kata jangan jadi anak hilang, dan jangan menghilangkan diri sendiri itu jelas jelas keluar dari sosok Orang tua yang merindukan anaknya dan menantikan kepulangannya. Bagaimana tidak, para masyayikh dan asatidz di pondok itu tidak hanya menjadi guru, akan tetapi mereka betul betul menjadi layaknya orang tua di rumah, mereka bukan hanya pengajar di kelas, tetapi mereka adalah mursyid, bahkan murobbi.

mereka tak hanya mentransfer ilmu, akan tetapi mereka mengajarkan adabnya ilmu. Dan satu lagi saya tambahkan dan tak kalah penting yaitu wejangan yang selalu di ulang-ulang oleh para masyayikh dan asatidz yaitu agar menjadi orang yang bermanfaat baik kepada diri sendiri maupun kepada orang lain.



Dari semangat yang diwariskan itulah kami para alumni memiliki ikatan yang erat dengan pondok pesantren Al Amien Prenduan. Ikatan batin antara guru dan murid yang kokoh dan tak mudah goyah. 

Akan tetapi apabila kita lihat dari sisi lain, kata kata beliau jangan jadi anak hilang, dan jangan menghilangkan diri ini juga tersirat makna kekhawatiran akan adanya anak yang hilang atau menghilangkan diri. Lalu siapakah orang yang dimaksud hilang dan menghilangkan diri itu? 

KH Ghozi Mubarok Idris menambahkan bahwa anak yang hilang bukan saja mereka (santri/alumni) yang sudah memutuskan ikatan dengan pondok, tidak pernah ke pondok, dan melupakan pondok. Sebutan anak hilang juga berlaku bagi mereka yang masih dipondok namun hati dan pikiran mereka tidak lagi di pondok.

Dari sini dapat kita simpulkan bahwa dimanapun kita berada, sesempat ataupun tidaknya kita untuk bisa berkunjung ke ibu tercinta, setidaknya hati kita selalu terpaut dengannya dan juga kepada para guru guru, tak lupa kita mendoakan mereka. Maka dari itu kita sudah termasuk berterima kasih kepada almamater kita tercinta, seperti yang beliau sampaikan diatas Ingat kepada Almamater, berarti kalian pandai berterima kasih. Karena itu, pandai pandailah berterima kasih pada sesama, pasti kalian pandai bersyukur kepada Allah.dan paragraf terakhir dari quote beliau selaras dengan apa yang telah baginda Nabi Muhammad SAW sampaikan

 من لم يشكر الناس لم يشكر الله

Barang siapa yang tidak berterima kasih kepada manusia berarti dia tidak berterima kasih kepada Allah.

Terakhir, semoga kita termasuk bagian dari syaakirin seperti apa yang disampaikan Nabi Muhammad SAW dengan cara mengingat,mensupport dan selalu mendoakan Almamater kita tercinta. Sehingga mendapatkan keberkahan keberkahan di setiap langkah kehidupan kita. Amiin

By: arif rahman al-idrisy.


Komentar